"Buat Apa Kami Melayani, Kalau Maunya Sama Saja?" Refleksi Kecil Pelayan Musik Muda di Gereja.

First Evan Davino Jasper



————  Pendahuluan

Jujur, saya menulis ini bukan karena saya ahli musik dan liturgi. Saya sendiri masih kuliah semester 3 di Teologi belum mendapat mata kuliah liturgi dan jelas bukan musisi professional. Saya cuma anak muda yang suka musik dan turut ambil bagian pelayanan di gereja.

Tapi justru dari situ kegelisahan ini muncul. Ceritanya saya waktu membawakan lagu Kidung Jemaat dengan aransemen yang saya sesuaikan. Temponya lebih hidup, harmonisasinya saya sesuaikan dengan cara saya bermain. Ataupun ketika saya dan teman-teman band pemuda melayani di kebaktian minggu. Niatnya murni, kami ingin melayani dengan sepenuh hati, dengan cara yang kami bisa.

Eh, tapi ada yang kurang sreg.

Beberapa jemaat yang lebih tua merasa tidak nyaman. Katanya lagunya terlalu beda. Harusnya seperti yang biasa, seperti iringan kidung jemaat yang sudah mereka kenal dari dulu.

Dan saya mikir... ya sudah, kalau maunya persis seperti nada dan tempo Kidung Jemaat yang asli, putar saja instrumennya. Buat apa kami ada di sini?

Mungkin itu kedengarannya agak kasar. Tapi itulah yang saya rasakan waktu itu. Dan saya rasa banyak anak muda pelayan musik di gereja yang pernah merasakan hal yang sama tapi memilih diam.


————  Apa yang Aku Pahami Tentang "Kontekstualisasi" Kidung Jemaat

Tapi sebelum saya lanjut, ada satu pertanyaan yang sering muncul di benak saya. Bolehkah Kidung Jemaat diaransemen? Atau memang harus selalu sama persis seperti aslinya?


Sekali lagi, saya belum mendapat mata kuliah liturgi. Mungkin nanti di semester 5 atau 6, Jadi saya tidak akan sok tahu pakai istilah-istilah yang saya sendiri belum paham.

Tapi satu hal yang saya yakini dari pengalaman melayani itu mengubah tempo atau aransemen sebuah lagu bukan berarti mengubah maknanya.

Coba bayangkan, lagu Malam Kudus bisa dinyanyikan dengan instrumen piano tunggal yang lembut, bisa juga dengan full band yang megah, bisa juga acapella oleh paduan suara. Tapi apakah maknanya berubah? Apakah Tuhan yang dipuji berbeda? Tidak kan?

Yang berubah hanya caranya. Bukan isinya.

Saya rasa itulah yang kami coba lakukan. Kami tidak mengganti liriknya. Kami tidak membuang makna yang ada dalam lagunya. Kami hanya membawakan lagu itu dengan cara yang jujur dari diri kami, sebagai anak muda dengan alat musik yang kami kuasai, dengan ekspresi yang memang lahir dari generasi kami.

Apakah itu salah?


————  GKJW dan Tradisi yang Kami Hormati

Saya lahir dan besar di GKJW. Jadi saya paham betul betapa dalamnya keterikatan jemaat dengan kidung jemaat dan iringan tunggal yang sudah menjadi identitas ibadah selama puluhan tahun. Itu bukan sesuatu yang bisa kami anggap remeh. Dan kami tidak pernah berniat meremehkannya.

Tapi ada satu hal yang terus mengganjal pikiran saya.

Gereja-gereja yang seasas dengan kami seperti GKJ, GKI sudah punya sesi ibadah yang lebih ekspresif, inovatif dengan pelayan anak-anak muda. Full band, aransemen modern, format yang berbeda dari biasanya. Dan jemaat mereka menerimanya dengan baik. Bahkan menikmati.

Lalu kenapa di GKJW, aransemen yang sedikit berbeda saja sudah membuat jemaat tidak nyaman?

Saya tidak punya jawaban pastinya. Mungkin soal kebiasaan. Mungkin soal sejarah. Mungkin memang GKJW punya cara tersendiri dalam menjaga tradisinya.

Tapi pertanyaan itu tetap ada. Dan saya rasa pertanyaan itu perlu diucapkan — bukan untuk menyerang, tapi untuk membuka percakapan.


————  Kegelisahan Kami yang Memilih Tidak Diam

Saya pernah iseng berpikir, kalau memang maunya persis seperti versi Kidung Jemaat yang asli, kenapa tidak putar saja audionya? Atau YouTube-nya? Kan sudah ada.

Tapi kami ada di sini. Dengan piano, gitar, drum bahkan kadang ada tambahan biola, dan semangat yang kami bawa dari rumah setiap minggu. Kami datang bukan karena terpaksa. Kami datang karena kami mau melayani.

Kami melayani dengan standar generasi kami. Dengan telinga yang terbiasa mendengar harmoni yang berbeda. Dengan tangan yang terlatih memainkan aransemen yang tidak selalu tunggal. Itu bukan kesalahan, itu adalah siapa kami.

Yang kami pertanyakan bukan apakah tradisi Kidung Jemaat itu salah. Sama sekali tidak. Yang kami pertanyakan adalah, apakah ada ruang untuk kami hadir sebagai diri kami sendiri di dalam kebaktian itu?

Karena kalau jawabannya tidak ada… maka kami benar-benar tidak tahu lagi buat apa kami ada di posisi itu.


————  Penutup : Kami Tidak Minta Banyak

Sekali lagi, saya tidak menulis ini untuk menyerang siapapun. Saya tidak sedang bilang bahwa tradisi kidung jemaat itu salah atau kuno. Saya justru menghormatinya.

Yang kami minta sederhana, beri kami ruang untuk melayani dengan cara kami. Selama kami tidak mengubah liriknya, tidak menggeser makna doanya, dan tetap dalam semangat ibadah. Bukankah itu sudah cukup?

Kontekstualisasi bukan berarti menghancurkan tradisi. Kontekstualisasi berarti tradisi itu tetap hidup, hanya saja dirayakan dengan cara yang berbeda oleh generasi yang berbeda.

Gereja yang sehat bukan gereja yang semua orangnya sama. Tapi gereja yang bisa menampung perbedaan generasi dan tetap memuji Tuhan bersama-sama. Kami hanya ingin jadi bagian dari pelayanan anak muda itu.


Comments